Minggu, 19 Juli 2009
The Prototype of Love
Terlalu abstrak untuknya dijelaskan
Dengan apa yang ada,
bukan suatu kecukupan
Terlalu mahir baginya muncul
di dalam hati
Hati batin yang tertembus,
akan timbul suatu rasa
Rasa yang disebut suatu anugerah,
dari-Nya Yang Maha Kasih
dari-Nya syukur bertubi dengan harap
dapat bertahan
Dan mempertahankan,
suatu ikatan
Rasa yang diberi nama,
CINTA . . .
The Name to The Truth
A wal hendaknya bertemu, dengannya yang berkesan
L alu,
D engan kuharap itu baik
Y a, masih bening, terlalu dingin dan itulah
R asa mencuat, helai pikiran muncul, memaksa walau
A nomali dirasanya
D an berlalu pun masa membentuk
H ati kian tipis, kikis
I ni sedikit terlihat walau
E nggan pula samar dan hanyalah
N ila
S uatu yang nyata telah menjadi maya
W arna abadi terkandung dalamnya yang diam
A mat tenang walau sesaat saja
V ariasi pun tak berkutik, hanya berayun mengikuti yang kekal
I ndah,
R asa ini indah dengan tanya, mengapa tercuat pada waktu ini,
A khir waktu maksudku, kawan
L alu,
D engan kuharap itu baik
Y a, masih bening, terlalu dingin dan itulah
R asa mencuat, helai pikiran muncul, memaksa walau
A nomali dirasanya
D an berlalu pun masa membentuk
H ati kian tipis, kikis
I ni sedikit terlihat walau
E nggan pula samar dan hanyalah
N ila
S uatu yang nyata telah menjadi maya
W arna abadi terkandung dalamnya yang diam
A mat tenang walau sesaat saja
V ariasi pun tak berkutik, hanya berayun mengikuti yang kekal
I ndah,
R asa ini indah dengan tanya, mengapa tercuat pada waktu ini,
A khir waktu maksudku, kawan
Sabtu, 23 Mei 2009
The Name to The Truth (Prototype Ver.)
A wal
L alu,
D engan
Y a
R asa
A nomali
D an
H ati
I ni
E nggan
N ila
S uatu
W arna
A mat
V ariasi
I ndah
R asa
A khir
Rabu, 22 April 2009
Long Way to Walk, Maybe . . .
Tirai perjalanan yang dibentangkan
oleh hati seorang
Tak kurang dari lurus, kadang berkelok
Buntu karena masih terlipat
dan, hilang . . .
Mencoba bentangkan dengan keberanian diri
Aku melangkah maju, dengan rasa baru
Hidup pun kutempuh,
sejauh mungkin
Tanpa upaya melihat ujung
Dan hanya terpaku pada langkah yang kuambil
Agar dapat melanjutkan sisa,
sisa waktu . . .
Tirai putih, suci yang menjadi sebuah acuan
Itu memudar setelah kulewati
Tapak kaki langkahku, seolah menjadi noda,
bukti perjalanan
yang akan terus (mungkin) tersirat selamanya
sebagai bekas,
bekas untuk dikenang . . .
Pola rumit yang tiba-tiba terpincut
dari sisi dalam khayalku
Ku isyaratkan sebagai alur gerak langkah kaki
Sampai saatnya kebingunganku timbul dan bertanya
Kemana arah yang harus kuambil
untuk dapat bertahan, dari pilihan lainnya
Berbagai tirai berwarna mencabangi pikiranku
begitu juga dengan nyatanya
Andai sayap mutlakku sudah tumbuh,
aku akan terbang, melayang tanpa harus memilih satupun
dan sampai pada ujung yang benar
Tahukah kawan, aku berpikir sejenak, termenung
Dengan tenang, mencuat sesuatu yang bijaksana,
mungkin
dan itulah jawabannya
Mengapa Tuhan tak memberikan,
sayap . . .
Dengan sayap, manusia tak mengenal rintangan
sebuah haluan pikiran, seperti angin dari arah berlawanan,
yang dengan sengaja menerpa,
bahkan menjatuhkan
suatu keyakinan,
keyakinan hati . . .
Terpilihlah suatu tirai berkelok dari benak
yang mungkin salah atas keraguan,
atau sebaliknya
Langkah mundur kutarik kembali, menuju jalur semula
Ku berjalan lurus, mengikuti aliran warna
yang terpilih itu
Jalur itu terbentang paling kiri
Melangkah dengan menghilangkan keraguan sedikit demi sedikit,
menggantinya dengan suatu keteguhan
Keyakinan atas apa yang kupilih
Tatapan lurus, sesekali memandangi jalur lainnya
yang bukan takdir
Tak kusangka, sampailah pandanganku pada sebuah puncak
puncak suatu keberhasilan hati
dan prasangka keanehan muncul mendadak
Aku melihat tirai yang tak kupilih,
semua tersampaikan ujungnya,
pada puncak itu, yang sama maksudku
Tersirat suatu simpulan olehku
Bahwa semua kerumitan dunia, pasti ada jalan
yang dapat menjadi suatu solusi
Semua jalur perjalanan yang berbeda-beda pun,
pasti mencapai suatu yang sama,
suatu keberhasilan hati
Dan tahukah kawan,
dengan sayap, kita tak mungkin,
menjumpai ini semua . . .
Jumat, 17 April 2009
The Original Maker for Her
Seorang yang kusebut istimewa
nan lemah akan hal kepekaan hatinya
kepada perasaan yang lain
Ingin kubawanya terbang naik,
memperlihatkan sebuah istana dalam hati
Hati yang selama ini tersimpan rapat di jiwaku
Istana dengan nama dirinya yang kuukir rapi
dengan pahatan kasih
Tapi, itu adalah satu kesiaan
Karena sayap yang kubayangkan lekat pada tubuhku,
sesungguhnya hanyalah khayalan
Kini, tak usah ku berharap istana itu terlihat olehnya
Pasangan kaki ku dapat menuntun dirinya
menuju sesuatu yang lain di jiwaku
Tak butuh ku sayap 'tuk terbang
Perlahan aku dengannya menaiki anak tangga harapan
Keyakinan ku untuk memilikinya semakin luas
Tibalah ku dengannya di sebuah gudang
gudang hatiku rupanya
Kcil, tapi penuh dengan mozaik hidupku
Kulihat lukisan namanya yang pernah kubuatkan 'tuknyaDengan keamatiran daya lukisku, tetap indah bagiku
menghadiahkan padanya
Kuas terujung tinta biru campuran merah semakin tegas
untukku menyayanginya
Mungkin ia tak menghiraukannya
Hanya sekedar memberiku penghargaan menerima kasih
Sudahlah, itu sudah yang lalu
Lalu ku bertanya, warna apa yang ia berikan kepada
hatiku yang ia lihat
Betapa ku terpincut ketika mendengarnya berkata padaku
Itu warna yang sama dengan semua orang yang mengenalnya
Entah sesal atau apapun itu rasaku
Kupikir, untuk apa aku berkunjung pada hatinya
sesering waktu
Hanya dua masa yang kuingat saat itu
Ketika ku mengetahui ia pernah menginginkan
istana hatiku
Dan saat kami saling bersapa dengan kata yang lebih lembut,
akrab dari biasanya
Terpikir olehku bahwa ia sudah menghilangkan masa itu
Dengan kepercayaan itu takkan berulang
Tapi kuyakin, ini tkadir yang kupilih karena sebuah prinsip
yang selalu ia hargai
Akupun masih akan menunggu sampai saat sayap mutlak ku
sudah tumbuh kokoh, setia membawanya terbang ke istana hatiku
Meski ia sudah tak sudi berdiam diri, menunggu takdir itu
Warna yang ia berikan,
bermakna dan membuat ketenangan walau sesaat
Warna itu ada untuk selamanya
dan lebih abadi dari apapun,
teman baik . . .
Selamat Ulang Tahun,
Untuknya . . .
Langganan:
Postingan (Atom)
