Rabu, 22 April 2009
Long Way to Walk, Maybe . . .
Tirai perjalanan yang dibentangkan
oleh hati seorang
Tak kurang dari lurus, kadang berkelok
Buntu karena masih terlipat
dan, hilang . . .
Mencoba bentangkan dengan keberanian diri
Aku melangkah maju, dengan rasa baru
Hidup pun kutempuh,
sejauh mungkin
Tanpa upaya melihat ujung
Dan hanya terpaku pada langkah yang kuambil
Agar dapat melanjutkan sisa,
sisa waktu . . .
Tirai putih, suci yang menjadi sebuah acuan
Itu memudar setelah kulewati
Tapak kaki langkahku, seolah menjadi noda,
bukti perjalanan
yang akan terus (mungkin) tersirat selamanya
sebagai bekas,
bekas untuk dikenang . . .
Pola rumit yang tiba-tiba terpincut
dari sisi dalam khayalku
Ku isyaratkan sebagai alur gerak langkah kaki
Sampai saatnya kebingunganku timbul dan bertanya
Kemana arah yang harus kuambil
untuk dapat bertahan, dari pilihan lainnya
Berbagai tirai berwarna mencabangi pikiranku
begitu juga dengan nyatanya
Andai sayap mutlakku sudah tumbuh,
aku akan terbang, melayang tanpa harus memilih satupun
dan sampai pada ujung yang benar
Tahukah kawan, aku berpikir sejenak, termenung
Dengan tenang, mencuat sesuatu yang bijaksana,
mungkin
dan itulah jawabannya
Mengapa Tuhan tak memberikan,
sayap . . .
Dengan sayap, manusia tak mengenal rintangan
sebuah haluan pikiran, seperti angin dari arah berlawanan,
yang dengan sengaja menerpa,
bahkan menjatuhkan
suatu keyakinan,
keyakinan hati . . .
Terpilihlah suatu tirai berkelok dari benak
yang mungkin salah atas keraguan,
atau sebaliknya
Langkah mundur kutarik kembali, menuju jalur semula
Ku berjalan lurus, mengikuti aliran warna
yang terpilih itu
Jalur itu terbentang paling kiri
Melangkah dengan menghilangkan keraguan sedikit demi sedikit,
menggantinya dengan suatu keteguhan
Keyakinan atas apa yang kupilih
Tatapan lurus, sesekali memandangi jalur lainnya
yang bukan takdir
Tak kusangka, sampailah pandanganku pada sebuah puncak
puncak suatu keberhasilan hati
dan prasangka keanehan muncul mendadak
Aku melihat tirai yang tak kupilih,
semua tersampaikan ujungnya,
pada puncak itu, yang sama maksudku
Tersirat suatu simpulan olehku
Bahwa semua kerumitan dunia, pasti ada jalan
yang dapat menjadi suatu solusi
Semua jalur perjalanan yang berbeda-beda pun,
pasti mencapai suatu yang sama,
suatu keberhasilan hati
Dan tahukah kawan,
dengan sayap, kita tak mungkin,
menjumpai ini semua . . .
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar